Takaran Pertalite di SPBU Bakung Dipersoalkan Warga, Pertamina Patra Niaga Buka Suara

Berita Daerah185 Dilihat
Salah satu SPBU di kota Baturaja yang di keiuhkan masyarakat lantaran di duga takarannya tidak pas. Foto : dokumen klikoku.id

BATURAJA, KLIKOKU.ID — Sejumlah pelanggan SPBU 24.321.196 di kawasan Bakung, Kelurahan Kemalaraja, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, mengeluhkan takaran BBM. Keluhan muncul setelah warga menemukan angka pengisian yang dinilai tidak sesuai dengan kapasitas tangki kendaraan.

Aji, warga Lubuk Batang, mengaku mengalami kejadian tersebut pada Selasa, 1 September 2026. Saat melintas di kawasan Bakung, sepeda motor Honda Vario tahun 2012 miliknya kehabisan bahan bakar. Ia kemudian mendorong motor ke SPBU dan meminta petugas mengisi Pertalite hingga penuh.

Menurut Aji, angka pada dispenser menunjukkan pengisian sebanyak 6,1 liter dengan nilai transaksi Rp61 ribu. Ia menyebut kapasitas tangki sepeda motornya sekitar 5,5 liter. Perbedaan tersebut membuat Aji mempertanyakan akurasi takaran BBM yang diterimanya saat pengisian.

“Karena motor saya kehabisan minyak, saya dorong motor ke SPBU Bakung dan saya isi full. Ternyata setelah diisi, jumlah liter yang masuk 6,1 liter, Rp61 ribu. Sedangkan kapasitas tangki motor saya hanya 5,5 liter,” ujar Aji saat ditemui pada Selasa, 8 September 2026.

Keluhan serupa disampaikan Devi, warga Sukajadi. Ia mengatakan konsumsi Pertalite yang dibelinya di SPBU tersebut terasa lebih cepat habis. Sementara itu, Yansah mengaku telah lama mempertanyakan takaran BBM di SPBU Bakung dan menyatakan warga berencana menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak berwenang.

Menanggapi keluhan tersebut, Pertamina Patra Niaga menyatakan akan segera menindaklanjutinya dengan melakukan pengecekan langsung ke SPBU 24.321.196 Baturaja. Pemeriksaan mencakup akurasi dispenser serta memastikan status tera alat ukur yang digunakan dalam transaksi BBM.

“Keluhan mengenai takaran di SPBU 24.321.196 Baturaja, kami akan segera menindaklanjuti dan melakukan pengecekan ke SPBU, termasuk memastikan akurasi dispenser serta status tera alat ukurnya,” kata pihak Pertamina Patra Niaga.

Pertamina Patra Niaga juga menyatakan kejadian pada 1 September 2026 akan ditelusuri. Namun, nominal transaksi dan kapasitas tangki kendaraan belum dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan adanya ketidaksesuaian takaran. “Perlu dipastikan melalui pengecekan dan pengujian dispenser. Jika ditemukan ketidaksesuaian, tentunya akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya. Pertamina juga meminta bukti transaksi atau informasi jam pengisian agar pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih spesifik dan cepat. (Lee)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *