Kegiatan Nonton Film Siswa di City Mall Baturaja Disorot Setelah Muncul Dugaan Biaya Tiket Rp40 Ribu per Siswa

Berita Daerah105 Dilihat
Ilustrasi tiktok terkait nonton cyber bulying di bioskop city mall Baturaja. Foto : schreen shot

BATURAJA, KLIKOKU.ID – Sebuah unggahan akun TikTok @codeblueoku menyoroti kegiatan menonton film bertema cyberbullying yang melibatkan pelajar di City Mall Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. (4/11/26). Video tersebut mempertanyakan pelaksanaan kegiatan yang disebut-sebut sebagai bagian dari edukasi bagi pelajar.

Namun, muncul sorotan mengenai dugaan pembebanan biaya tiket kepada siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Dalam unggahan itu, akun @codeblueoku menampilkan tulisan bernada kritik, yakni, “Kedok edukasi cyber bullying! Aslinya pungli!” Pernyataan tersebut merupakan tudingan dalam konten media sosial yang masih membutuhkan pembuktian.

Sorotan terutama tertuju pada informasi harga tiket bioskop yang disebut mencapai Rp40.000 per orang. Jika benar diberlakukan kepada setiap peserta, biaya tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka kepada orang tua maupun pihak sekolah.

Video itu juga menampilkan ilustrasi jumlah siswa tingkat SD dan SMP di Kabupaten OKU sebanyak 12.000 orang. Angka tersebut kemudian digunakan untuk membuat simulasi perkiraan total biaya kegiatan.

Berdasarkan perhitungan dalam video, apabila 12.000 siswa dikalikan harga tiket Rp40.000, maka diperoleh angka Rp480 juta. Namun, nominal tersebut sebatas asumsi perhitungan dan belum membuktikan adanya pungutan dengan jumlah peserta maupun nilai transaksi tersebut.

Persoalan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pelaksanaan kegiatan, mulai dari pihak penyelenggara, dasar penetapan biaya, hingga sumber pembiayaan. Kejelasan informasi diperlukan agar kegiatan pendidikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Di sisi lain, edukasi mengenai perundungan siber atau cyberbullying merupakan materi penting bagi pelajar. Namun, pelaksanaannya perlu memperhatikan prinsip transparansi, kesesuaian program pendidikan, serta kemampuan ekonomi orang tua siswa.

Dinas Pendidikan Kabupaten OKU diharapkan memberikan penjelasan mengenai kegiatan tersebut, termasuk apakah program itu merupakan agenda resmi, bagaimana mekanisme keikutsertaan siswa, serta apakah terdapat kewajiban pembayaran tiket bagi peserta.

Hingga informasi dalam video tersebut dapat dikonfirmasi kepada pihak terkait, dugaan pungutan tersebut perlu ditempatkan sebagai persoalan yang membutuhkan klarifikasi. Transparansi penyelenggaraan kegiatan menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan di OKU.

Beragam komentar pun membanjiri kolom komentar akun TikTok yang menggambarkan komentar mengkritik terkait kebijakan tersebut.
“Itu bukan edukasi tapi akal-akalan… Baru sekali ini aku dengar edukasi nonton bioskop.” tulis Yantok Putra Pali di kolom komentar.

“Yg nonton bioskop dg alasan edukasi itu buat yg mampu… Msi byk yg buat makan aja susah ???,” seloroh Heri Dendi Her dikolom komentar.
Akun TikTok milik Sri Mulyati juga memberikan komentar terkait video yang viral tersebu, dirinyaenikis, “Kalau memang edukasi, itu skrg hampir tiap sekolah sudah ad tv knp tdk di putar di tv sekolah saja…,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan OKU, Taufik saat ditemui wartawan mengatakan, dirinya belum mengetahui adanya gejolak ditengah masyarakat terkait film yang dituding sebagai lahan bisnis berkedok edukasi.
“Karna saya tidak tau jadi saya tidak bisa menjelaskan masalah itu, nanti akan saya sampaikan ke Kadin. Agar kedepannya hal ini bisa kami evaluasi,” katanya singkat. (Ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *